Kenali 6 Hal Utama Penyebab Abortus

images (19)

Sumber: Dr. Marly Susanti, SpOG

BUKAN HAL YANG BERLEBIHAN JIKA PASANGAN MENGIDAMKAN SEORANG ANAK. Ada beberapa di antaranya yang bisa dengan mudah mendapatkannya. Namun, tidak sedikit pula di antara mereka yang terpaksa harus “menggantung mimpi” untuk mewujudkannya karena seringnya terjadi keguguran atau abortus. Lantas, kenapa abortus berulang terjadi ? Apakah selalu karena toksoplasma?

images (20)

Dijelaskan oleh Dr. Marly Susanti, SpOG bahwa abortus atau keguguran adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Abortus berulang adalah istilah yang diberikan jika abortus terjadi berturut-turut sebanyak 3 kali. Di Indonesia, Dr. Marly menyebutkan persentase kejadian abortus secara keseluruhan berkisar 15-20 % dengan berbagai macam penyebab.

Orang sering beranggapan abortus diakibatkan oleh toksoplasma. Padahal ditegaskan oleh Dr. Marly, kalau abortus tidak selalu disebabkan oleh toksoplasma. Abortus disebabkan oleh banyak hal antara lain infeksi, kelainan genetik, kelainan bentuk rahim, pintu rahim yang membuka sebelum waktunya, sel telur yang tidak baik, dan gaya hidup tidak sehat.

Infeksi

Penyebab utama dari abortus dikatakan oleh Dr. Marly adalah infeksi. Infeksi pada ibu hamil yang memperlihatkan hubungan yang jelas dengan kejadian abortus berulang adalah sifilis, parvovirus B19, HIV, toxoplasma, herpes virus, cytomegalovirus, Campylobacter sp., U.urealyticum dan malaria. Brusellosis, suatu penyakit zoonosis yang paling sering menginfeksi manusia melalui produk susu yang tidak dipasteurisasi juga dapat menyebabkan abortus.

Faktor Genetik

Faktor genetik antara suami dan istri juga dikatakan Dr. Marly dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan janin atau embrio yang kemudian dapat menyebabkan terjadinya abortus. Adanya kelainan kromosom yang tumbuh pada janin, baik kelainan jumlah maupun struktur kromosom itulah yang menjadi salah satu masalah.

Aborsi yang disebabkan adanya kelainan kromosom dapat diketahui dari hasil pemeriksaan janin yang mengalami abortus. Untuk masalah yang satu ini, hendaknya pasien bersabar karena ditegaskan Dr. Marly, abortus pada kelainan kromosom seringnya tidak dapat diatasi. “Solusi yang ditawarkan adalah mengangkat anak,” katanya.

Kelainan Bentuk Rahim

Kelainan bentuk rahim atau disebut kelainan anatomi organ reproduksi pada seorang ibu juga dapat memicu terjadinya abortus berulang. Kelainan bentuk rahim seperti uterus bersekat, uterus bikornu, dan uterus arkuatus adalah contohnya. Selain itu, adanya miom (tumor padat di rahim), sindrom asherman (perlekatan dinding rahim), dan kelemahan pada mulut rahim (inkompetensi serviks) juga dikatakan akan menjadi salah satu penyebab abortus.

images (21)Menurut penjelasan Dr. Marly, bentuk rahim yang tidak normal akan menyebabkan bakal janin tidak menempel secara baik sehingga terganggu pertumbuhannya. Idealnya, untuk menghadapi abortus, yang diduga karena kelainan anatomi, akan dilakukan pemeriksaan USG. Jika kelainan anatomi disingkirkan, lakukan rangkaian pemeriksaan faktor-faktor hormonal, imunologi atau kromosom.

Pintu Rahim yang Membuka Sebelum Waktunya.

Selain kelainan pada bentuk rahim, abortus juga dapat terjadi saat ada kelainan pada mulut rahim. Kelainan pada mulut rahim dapat terjadi dalam bentuk pembesaran pada pintu rahim. Dikatakan Dr. Marly, hal tersebut juga dapat memicu terjadinya abortus karena pembesaran pintu rahim akan membuat pintu rahim tersebut terbuka. Ditegaskannya, hal itu akan membuat bakal janin tidak tertahan sehingga keluar dari rahim dan terjadilah abortus.

Sel Telur yang Tidak Baik

Baik umur sperma atau ovum dapat mempengaruhi angka insiden abortus spontan. Setiap perempuan terlahir dengan jumlah sel telur yang sama. Namun, seiring waktu, dijelaskan oleh Dr. Marly, bahwa sel telur akan berkurang jumlah dan kualitasnya. Pada usia di atas 30 tahun, sel telur akan mengalami penurunan kualitas. Manifestasi dari penurunan kualitas ini dikatakannya dalam bentuk kelainan fisik dan juga abortus.

Gaya Hidup

Gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, minum alkohol dan menggunakan narkoba menjadi penyebab dari abortus berulang. Penelitian epidemiologi mengenai hubungan merokok dengan abortus, menemukan bahwa merokok dapat meningkatkan risiko untuk terjadinya abortus. Namun, hubungan antara merokok dengan abortus tergantung pada faktor-faktor lain termasuk konsumsi alkohol, riwayat kehamilan, usia kehamilan, kelainan kromosom janin, juga sisi status sosioekonomi.

7 Penanganan Abortus.

Bila abortus sering terjadi, maka tidak perlu urung hati untuk tetap percaya bahwa Anda akan mendapatkan keturunan. Untuk pencapaian itu, diperlukan penanganan abortus secara baik terlebih dulu. Berikut disampaikan penanganan secara umum pada kasus aborsi .

1. Evaluasi, dimulai saat keguguran telah berulang 2 kali. Evaluasi dilakukan oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi.

2. Setelah mengalami abortus sebaiknya menunda kehamilan dengan memakai kondom dahulu sampai adanya hasil evaluasi lengkap.

3. Tenangkan diri dan kendalikan psikis dan emosi.

4. Sabar dan tetap mengikuti pemeriksaan. Pahami bahwa pemeriksaan cukup banyak dan memerlukan biaya yang cukup mahal.

5. Ikuti terapi yang diberikan dokter dengan baik. Terapi dilakukan sesuai dengan penyebabnya masing-masing.

6. Pemeriksaan kromosom pasangan dan konseling genetik biasanya diperlukan

7. Berhenti dari kebiasaan buruk seperti merokok, minum alkohol dan menggunakan narkoba.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s