Curhat – Cancer Survivor

Bagaimana para pengidap kanker menerima dan melawan kanker yang diidapnya? Berikut curahan hati mereka. 

406028_4366764933512_1954833453_n#1

Graece Tanus (42 tahun)

Pengidap kanker payudara

 Pada saat pertama kali, saya tidak begitu sadar kalau itu adalah kanker. Gejala awalnya tubuh saya seperti sering masuk angin, badan terasa tidak enak, ingin dikerik sampai harus memakai jaket di kantor, capek dan ingin tidur setelah pulang kerja. Karena badan terasa tak enak, saya pun berolahraga. Kanker tak terdeteksi hingga pada 14 Agustus 2012, saya merasakan adanya benjolan saat menggunakan body lotion.

Awalnya saya berharap positif. Waktu itu berat badan agak gemuk. Saya pikir benjolan tersebut adalah lemak. Ternyata jalan Tuhan lain. Saya mendapat anugrah menjadi orang yang terpilih. Saya ikhlas. Sampai saat ini, saya merasa seperti orang normal. Saat pertama kali merasa sakit, saya didiagnosa dokter menderita kanker stadium empat. 

DSC_5035Saat itu saya tidak berdoa “mengapa harus saya, Tuhan?” Saya hanya berdoa agar Tuhan memberi saya kehidupan kedua. Saya masih ingin merawat mama dan membesarkan anak. Tidak ada tangis atau kemarahan. Kalaupun saat ini keluar air mata, itu adalah tanda haru bahwa doa saya didengar Tuhan dan mendapat mukjizat. Saya yakin saat ini juga saya sudah mendapatkan mukjizat tersebut.

Saat ini, saya memiliki seorang anak. Beruntung, anak mendukung saya dengan luar biasa. Ia memberikan saya puisi. Sebagai orang tua, kita tidak perlu menyuruh anak melakukan sesuatu. Saya cukup memberi contoh melalui perilaku yang dapat ia tiru. Lebih baik memberi contoh melalui tindakan daripada menyuruhnya melakukan banyak hal.

Ketika tahu mamanya terdiagnosa kanker, ia berkata: “Mama tak perlu takut. Mama pasti sembuh kok. Mama tidak perlu malu untuk botak. Mama kan jadi seperti biksu yang suka berdoa bagi orang lain. Mama akan tetap sehat. Mama tidak perlu menangis.” Saya harus berjuang demi anak. Dalam keadaan seperti ini, keluarga memang menjadi pendukung nomor satu.

Saya juga berterima kasih untuk mama yang sudah berusia 74 tahun namun masih bersemangat. Teman-teman yang mendukung saya adalah para pejuang. Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak bersemangat. Saya harus selalu bersemangat. Saya akan memperjuangkan hidup saya sampai titik darah terakhir. Saat ini saya hanya berpikir satu hari per satu hari dan selalu bersyukur.

Saya juga memiliki prinsip hidup datang dari Tuhan. Kita memang milikNya. Saya pasrahkan saja karena semua orang pun berjalan menuju ke arah yang sama, hanya saja kita tak tahu kapan waktunya. Jadi selama masih diberikan kesempatan, saya harus berkarya. Tidak ada alasan untuk tidak berkarya. Orang-orang yang mendukung adalah para pejuang saya.

DSC_4766Saat saya kemoterapi, mereka datang mendukung. Mereka datang menengok ke rumah meski sedang hujan. Mereka berjuang bagi saya dalam bentuk yang berbeda. Saya tidak berpikir bahwa diri saya berbeda dengan orang lain. Santai dan terus melakukan rutinitas. Kontrol ke dokter dan berserah pada Tuhan. Saya yakin pasti dapat menghadapinya.

Meski mengidap kanker, saya tidak mau berdiam diri. Saya banyak melakukan kegiatan seperti jelajah budaya dan lain-lain. Kegiatan semacam ini justru menyemangati saya. Saya sama seperti teman-teman lain. Masih banyak yang mengharapkan saya: keluarga dan teman-teman di lingkungan pekerjaan maupun sosial. Saya juga bersyukur karena kantor tetap memberi saya kesempatan untuk bekerja.

Buat saya, penyakit seperti ini harus diobati, tidak boleh tidak. Masa awal diagnosa memang menjadi sesuatu yang sangat berat. Segala sesuatunya seperti hancur berantakan. Namun jika kita mulai lebih mendekatkan diri pada Tuhan, pasti akan ada jawaban-jawaban dariNya yang menjadi obat bagi diri kita sendiri. Jangan melanggar perkataan dokter. Selagi dokter berkata operasi, lakukan.

Secara kedokteran, mereka memang tahu. Lakukan apa yang menjadi instruksi dokter. Selagi masih dapat dilakukan operasi, segera lakukan operasi. Pasti bisa. Melalui deteksi dini, penyembuhannya pasti juga secara dini. Jika mendengar bahwa kemoterapi sakit dan menakutkan, jangan pikirkan. Obat-obatan di Indonesia sudah dapat menangkal dampaknya. 

Saya sendiri tidak pernah mengalami mual atau hal-hal menganggu lainnya. Kita harus tetap percaya bahwa pengobatan di Indonesia sudah jauh lebih baik atau paling tidak sama seperti luar negeri. Jika terjadi sesuatu sampai harus kembali ke rumah Tuhan selama masa kemoterapi, jangan pernah menganggap bahwa penyebabnya adalah obat kemoterapi. Semua sudah suratan di Atas. Jangan pernah takut kemoterapi. Lakukan saja sambil tetap berserah. Efek minimum dan kita pun enjoy.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s