Pengendalian Resistensi Terhadap Antibiotik

DSC05498

Jakarta (26/2) Indonesia Resistance Watch (IARW)Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) bekerja sama dengan berbagai pakar di bidang mikrobiologi mengadakan symposium dalam rangka pengendalian resistensi antimikroba. 8th National Symposium of Indonesia Antimicrobial Resistance Watch (IARW) 21-24 Februari 2013 di Hotel Shangri-La Jakarta, dengan mengusung tema ‘Challenges in Controlling Emerging and Re-Emerging Antimicrobial Resistant Strains’.

Symposium mengangkat keadaan yang sedang dihadapi dunia saat ini, dimana keberadaan jenis bakteri yang telah resisten terhadap pengobatan antibiotika. Ancaman penyebaran mikroba emerging maupun re-emerging yang resisten terhadap berbagai anti mikroba, bakteri atau virus yang telah resisten terhadap antimikroba, sehingga menimbulkan permasalahan dalam penanganan infeksi baik pada tingkat individu, masyarakat maupun pelayanan kesehatan.

DSC05499Karena itu dibutuhkan peranan pakar mikrobiologi klinik dalam penanggulangan penyakit infeksi. Tidak hanya dalam hal mengidentifikasi penyebab infeksi namun juga sebagai mitra klinis dalam penatalaksanaan pasien, khususnya dalam hal penggunaan antimikroba yang rasional. Symposium ini menampilkan data resistensi mikroba tercanggih, sehingga dapat mewakili kondisi di Indonesia dan dapat bermanfaat sebagai panduan para pemegang kebijakan (stakeholder) untuk mengendalikan laju resistensi antimikroba di Indonesia.

Saat ini dan nantinya pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan resistensi dengan dilakukan beberapa usaha seperti mengeluarkan pedoman menggunakan penggunaan antibiotik secara rasional untuk tenaga kesehatan juga untuk masyarakat contohnya CBIA (Cara Belajar Instan Aktif) yaitu termaksud hidup sehat, bersih dan cara penggunaan antibiotik yang rasional contohnya flu, tidak perlu menggunakan antibiotik karena virus, dan sebenarnya anti biotik dipergunakan untuk bakteri.

Kedepan akan adanya SJSN yang dimaksudkan untuk mengusahakan cakupan layanan membesar diikuti mutu pelayan meningkat, seperti di puskesmas atau layanan medis terdekat sehingga masyarakat tidak perlu membeli antibiotik secara bebas di apotik dengan alasan takut kedokter atau rumah sakit karena mahal.

Pengawasan pemerintah sendiri terhadap antibiotik di masyarakat, di tahun 2014 akan ada asuransi sosial dimana penggunaan obat diluar yang diindikasikan tidak akan dibayar. Diharapkan menjadi intervensi yang efektif, selain itu preventive promotif menjadi program pemerintah utama, maka semakin masyarakat sehat, semakin berkurang biaya.

DSC05500Beberapa usaha lain seperti Electronic Catalog, obat yang dapat diresepkan hanya ada di katalog, dan obat yang ada dikatalog hanya ada obat yang sudah ada kontrak serta sudah ada standar biayanya. Data nasional, kedepannya memperkuat sistem mencakup internasional, memperkuat laboratorium, dan memperkuat ahli mikrobiologi agar hasilnya lebih valid.

Dengan adanya symposium ini dalam rangka promosi penggunaan antibiotik, mudah-mudahan dapat membantu pemerintah menekan resistensi, karena ditakutkan dengan meningkatnya resitensi akan sekakin besar biaya kesehatan, untuk itu pentingnya promosi nasional penggunaan antibiotical. Diharapkan peran laboratorium ditingkatkan, dan pendidikan lebih ditingkatkan tidak hanya di tempat pusat pendidikan. Berikut beberapa penjelasan singkat dari Direktur Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementrian Kesehatan Dra Maura Linda Sitanggang, Apt, PhD dan Prof.dr.Usman Chatib Warsa, PhD,SpMK(K) (Chairman organizing Committee).vns

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s