Polip Hidung

images (30)

Sumber : RSUP Sanglah

Polip hidung ialah massa lunak (pertumbuhan selaput lendir hidung yang bersifat jinak) yang mengandung cairan di dalam rongga hidung, berwarna putih keabuan & mengakibatkan infeksi mukosa hidung.

Tanda dan Gejala

  • Hidung tersumbat bersifat menetap dari ringan sampai berat
  • Keluar ingus namun sukar untuk dibuang
  • Berkurangnya fungsi penciuman dan bersin-bersin
  • Tampak massa lunak yang mengandung cairan di dalam rongga hidung, berwarna putih keabuan
  • Ada lendir dan rasa kering yang terkumpul di tenggorokan

Faktor Risiko & Penyebab Penyakit

  • Infeksi yang kronis pada hidung
  • Fungsi saraf otonom tidak normal
  • Adanya faktor keturunan, penderita dengan riwayat penyakit tersebut mempunyai keturunan
  • Penderita dengan infeksi kronis pada hidung
  • Penderita rhinitis alergi

Pencegahan

Mengetahui tanda & gejala penyakit polip hidung, segera membawa penderita ke pusat pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapat penanganan yang tepat.

Deteksi Dini

Diagnosis berdasarkan:

  • Anamnesa
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan penunjang: endoskopi, foto polos sinus paranasal dan CT Scan

Upaya Penanganan & Pengobatan

  • Menghilangkan keluhan, mencegah komplikasi dan kekambuhan
  • Terapi awal dengan kortikosteroid dan dekongestan memberikan hasil yang baik untuk pengobatan polip hidung
  • Apabila terapi dengan obat-obatan tidak memberikan hasil yang memuaskan dipertimbangkan untuk dilakukan terapi bedah
  • Terapi bedah berupa operasi polipektomi, operasi Caidwell-Luc dan bedah sinus endoskopi
  • Aspirasi abses dengan jarum untuk kultur dan pemberian antibiotika

Prognosis mengarah baik bila penanganan dilakukan pada waktu dan teknik yang tepat, tetapi bila terlambat dan sudah terjadi komplikasi seperti sinusitis, infeksi telinga, sumbatan jalan nafas maka prognosis memburuk.

Referensi

  • Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Third Edition, Lippincot Williams & Wilkins, Philadelphia, 2001, 702 – 715.
  • Lore JM, Medina JE. An Atlas of Head and Neck Surgery, Fourth Edition, Elsevier Inc, W.B Saunders, Philadelphia, 2005, 854 – 855
  • Kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL, Modul Faring & Laring, Jakarta, 2008, Edisi I
  • Soepardi, E.A., dkk. (Penyunting), Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007, Edisi VI

Limfedema yang Mengganggu

Sumber: Berbagai Sumber

Limfedema adalah pembengkakan yang disebabkan oleh gangguan pengaliran cairan getah bening kembali ke dalam darah.

Cairan limfe sebagian besar merupakan cairan ekstraseluler (di luar sel) yang mengandung banyak molekul protein dan partikel lainnya. Molekul tersebut berukuran besar sehingga tidak dapat melewati membran kapiler (pembuluh darah halus) dan masuk ke dalam intravaskuler (pembuluh darah utama)

Itulah mengapa cairan limfe memiliki sistem transportasinya sendiri yaitu sistem limfatik. Pada kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan gangguan pada sistem limfatik, maka akan mempengaruhi pula laju transportasi cairan limfe. Bisa jadi cairan limfe menjadi tak terangkut dan menumpuk di ekstraseluler sehingga timbullah edema (bengkak).

Penyebab

Pada umumnya dikenal dua bentuk limfedema, yakni yang kongenital/primer (bawaan sejak lahir) dan yang didapat/sekunder. Limfedema kongenital merupakan suatu kelainan bawaan yang terjadi akibat tidak terbentuknya atau terlalu sedikitnya pembuluh getah bening yang terbentuk, sehingga tidak dapat mengendalikan seluruh getah bening. Kelainan ini hampir selalu mengenai tungkai dan jarang terjadi di lengan. Kelainan ini lebih sering terjadi pada anak perempuan. ”Persentase kasus limfedema kongenital, khususnya di Indonesia, masih jarang” ujar Dr. Murnizal.

Kasus yang lebih banyak ditemukan adalah limfedema sekunder/yang didapat. Biasanya kelainan ini merupakan akibat dari :

• Pembentukan jaringan parut karena infeksi berulang pada pembuluh getah bening, sehingga terjadi gangguan aliran cairan getah bening. Contohnya saja pada infeksi karena parasit tropis Filaria, yang menyebabkan kaki gajah (filariasis). Selain itu kumpulan cacing dewasa yang terjadi pada infeksi itu juga menyebabkan penyumbatan pembuluh dan kelenjar limfe.
• Trauma bedah dan radiasi, terutama setelah pengobatan kanker. Contohnya pada kanker payudara di mana bisa terjadi penyebaran sel kanker ke kelenjar getah bening dan pembuluh getah bening sehingga harus diangkat atau disinari dengan radiasi. Bila hal itu terjadi maka bisa terjadi gangguan pada aliran limfe sehingga menimbulkan penumpukkan cairan (edema/bengkak).
• Trauma akibat lainnya, misalnya kecelakaan
• Peradangan/infeksi yang lain Peradangan pada sistem limfatik biasanya dimulai dengan selulitis (infeksi jaringan di bawah kulit) atau limfangitis (radang saluran limfe) yang berulang. Dapat terjadi dengan atau tanpa suhu yang meningkat, seringkali terlihat bercak merah yang makin melebar, akhirnya sebagian besar tungkai akan bengkak dan merah, panas serta perih. Kelenjar limfe di bagian proksimalnya juga akan ikut membengkak dan nyeri pada perabaan.
• Bisa juga akibat penyakit lain, seperti gagal jantung, sirosis hati, atau gagal ginjal, yang menyebabkan kapasitas sistem limfe relatif tidak mencukupi beban limfe yang berlebih.

Gejala

“Limfedema paling sering terjadi di tungkai, namun dapat mengenai bagian tubuh yang lain seperti leher dan lengan,” ujar Dr. Murnizal. Pada limfedema kongenital, pembengkakkan dimulai secara bertahap pada salah satu atau kedua tungkai. Pertanda awal dari limfedema bisa berupa bengkak di kaki, yang menyebabkan sepatu terasa sempit menjelang sore hari. Pada stadium awal, pembengkakkan akan menghilang jika tungkai diangkat. Lama-lama pembengkakkan tampak lebih jelas dan makin ke arah atas serta tidak menghilang secara sempurna meskipun setelah beristirahat semalaman.

Pada limfedema yang didapat, kulit tampak sehat tetapi mengalami pembengkakkan. Penekanan pada daerah yang membengkak tidak meninggalkan lekukan. Pada kasus yang jarang, lengan maupun tungkai yang membengkak tampak sangat besar dan kulitnya tebal serta berlipat-lipat, sehingga hampir menyerupai kulit gajah (elefantiasis).

Bila sudah terjadi limfedema yang sebegitu parahnya, tentu saja menyebabkan gangguan dalam fungsi maupun secara estetika/kosmetik. Selain itu kulit dari bagian yang membengkak juga rentan mengalami trauma atau infeksi berulang (selulitis) sehingga dapat memperberat kelainan yang sudah terjadi.

Peradangan pada sistem limfatik biasanya dimulai dengan selulitis atau limfangitis yang berulang. Dapat terjadi dengan atau tanpa suhu yang meningkat, seringkali terlihat bercak merah yang makin hari makin melebar, akhirnya sebagian besar tungkai akan bengkak dan merah, panas serta perih. Kelenjar limfe di bagian proksimalnya juga akan ikut membengkak dan nyeri pada perabaan.

Pemeriksaan

Untuk mendiagnosa limfedema maka diperlukan rangkaian pemeriksaan mulai dari anamnesis (wawancara medis), pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. akan ditanyakan sejak kapan kelainan itu muncul, hal apa yang terjadi sebelum kelainan muncul, dan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada pencarian penyebab.

Pemeriksaan fisik tentu dengan melihat dan meraba. Limfedema biasanya tidak disertai dengan pelebaran pembuluh darah setempat, berbeda dengan pembengkakkan yang disebabkan oleh kelainan pembuluh darah. Kemudian dilakukan penekanan apakah bagian yang ditekan itu bisa kembali seperti semula atau tidak. Biasanya kalau limfedema tahap awal bila ditekan masih bisa kembali lagi. Jika sudah tahap lanjut di mana sudah tidak bisa kembali lagi, berarti sudah ada pengerasan jaringan di dalamnya.

Selain itu ada pemeriksaan penunjang yang disebut limfografi, yakni dengan memasukkan zat kontras ke dalam pembuluh limfe kemudian dirontgen. Nantinya bisa dilihat pembuluh mana yang tersumbat alirannya.

Terapi

“Limfedema tidak ada obatnya,” tegas Dr. Murnizal. Pada limfedema ringan, untuk mengurangi pembengkakan bisa digunakan perban kompresi.

Pada limfedema yang lebih berat, untuk mengurangi pembengkakan bisa digunakan stoking pneumatik (stoking khusus yang bisa memberikan efek penekanan tertentu) selama 1-2 jam/hari. Jika pembengkakan berkurang, untuk mengendalikan pembengkakan, penderita harus menggunakan stoking elastis setinggi lutut setiap hari, mulai dari bangun tidur sampai sebelum tidur malam hari. Pada limfedema di lengan, untuk mengurangi pembengkakan digunakan stoking lengan pneumatik setiap hari.

Pada elefantiasis ataupun limfedema yang sangat berat mungkin perlu dilakukan pembedahan ekstensif untuk mengangkat sebagian besar jaringan yang membengkak di bawah kulit.

Menurut Dr. Murnizal, tindakan itu adalah cara yang efektif walau memang hasilnya tidak selalu memuaskan, apalagi dari segi estetika. Efektif karena memang yang perlu dilakukan adalah membuang kelenjar dan pembuluh yang mengalami pembengkakan maka limfedema pun akan hilang. Namun tetap harus diperhatikan bahwa operasi jangan sampai mengenai jaringan atau organ penting lain disekitarnya. Selain itu juga perlu dipastikan bahwa pasca operasi tidak malah terjadi gangguan aliran limfe kembali.

Dari sisi estetika, walau bengkak sudah teratasi tapi memang biasanya meninggalkan bekas yang tidak menyenangkan. Baik itu akibat tindakan operasi (bekas jahitan) ataupun dari kelainannya sendiri. Limfedema yang parah biasanya terjadi pada area tubuh yang luas sehingga tindakan operasi pun harus dilakukan sayatan yang cukup panjang sehingga menyisakan luka bekas operasi yang terlihat jelas. Selain itu pada kulit yang sebelumnya mengalami limfedema biasanya lebih menebal, warna kulit lebih gelap, dan menjadi kering/kasar. Belum lagi jika pasien memiliki bakat keloid maka bisa saja timbul keloid pada luka bekas operasinya.

Meski begitu Dr. Murnizal mengingatkan bahwa tentu saja “efek samping” dari pembedahan tersebut masih tak sebanding dengan manfaat yang didapatkan. Suatu kelainan apapun itu, harus cepat ditangani. Begitu pula dengan limfedema, bila sudah terlampau parah, maka memang operasi adalah satu-satunya cara.

Untuk Informasi lebih lanjut mengenai pemahaman tentang hal ini, dapat dibaca di majalah gratis Sehat Indonesiaku yang akan diterbitkan pada Penghujung tahun 2012.