Mengenali Teknologi MRI di Indonesia

Sumber: Rumah Sakit MRCCC Siloam Semanggi & Rumah Sakit Gading Pluit

MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Adalah prosedur diagnostik untuk memeriksa dan mendeteksi kelainan di dalam tubuh dengan menggunakan medan magnet dan gelombang frekuensi radio. Pemeriksaan ini tidak menggunakan sinar X ataupun bahan radioaktif.

Bagaimana cara kerja MRI?

Sinyal-sinyal yang tergabung di dalam tubuh yang terdiri dari molekul-molekul yang bergerak ditangkap oleh antena dan dikirim ke layar monitor menjadi gambaran yang jelas dari struktur rongga tubuh bagian dalam.

Apa kegunaan MRI?

MRI dapat memberikan gambaran yang jelas dari jaringan tubuh, pembuluh darah dan analisa metabolit kimiawi (Spectroscopy), tanpa merasa sakit selama pemeriksaan.

MRI dapat digunakan untuk:

  • Memberi gambar yang jelas untuk menilai jaringan lunak, antara lain otak, sumsum tulang belakang, susuna syaraf, otot, ligamen, tendon, tulang rawan, ruang sendi.
  • MRI dengan tesla tinggi merupakan alat penunjang diagnostik untama untuk kasus-kasus stroke bukan pendarahan untuk mengetahui penyebab serangan beberapa menit selelah stroke terjadi, berbeda dengan CT-Scan yang membutuhkan waktu diagnosa 12 jam – 24 jam setelah serangan.
  • Mengevaluasi anatomi dan kelainan organ didalam rongga dada dan rongga perut. Seperti hati, ginjal, kelenjar getah bening, pankreas, prostat dan empedu.
  • Analisa tumor jinak dan tumor ganas payudara, selain itu untuk payudara yang menggunakan protese.
  • Skrining keganasan pada kelenjar prostat.
  • Menilai organ reproduksi wanita (endrometriosis, kista, myoma,dll).
  • Tingkat akurasi MRI payudara mencapai 95%
  • Untuk menggantikan IVP bila pasien alergi terhadap kontras atau untuk melihat batu yang tidak tampak pada pemeriksaan sinar X.
  • Untuk menggantikan mamografi jika pasien merasa tidak nyaman dengan

Pemeriksaan (mamografi payudara):

  • Wanita usia muda < 40 tahun.
  • Implant payudara.
  • Payudara berukuran kecil
  • Penyakit hati, ginjal, kelainan kelenjar getah bening, pankreas dan lain-lain.
  • Pemeriksaan saluran empedu (MRCP).
  • Pemeriksaan aneurisma (pelebaran) pembuluh darah otak, leher, ginjal, maupun selkeuruh pembuluh darah tubuh.

Manfaat MRI sangat banyak, pasien tidak merasa sakit dan gambar yang dihasilkan sangat mendetil sehingga mengurangi tindakan invasif atau pembedahan untuk keperluan diagnostik.

Apa yang harus dibutuhkan pasien sebelum pemeriksaan MRI?

  • Khusus untuk MRI yang memerlukan zat kontras, maka dianjurkan untuk puasa 4 jam sebelumnya.
  • Secara umum pasien boleh melakukan aktifitas rutin serta makan dan minum obat seperti biasa.
  • Pada saat pemeriksaan, pasien akan diminta untik melepaskan semua barang-barang yang bterbuat dari logam.
  • Khusus untuk pemeriksaan MRCP, pasien perlu berpuasa 6 jam sebelumnya.
  • Jam tangan dan dompet yang berisi kartu kredit harus disimpan di loker karena medan magnet akan merusak kartu kredit.
  • Bila pasien mempunyai benda-benda logam ditanam dalam tubuh (implant, stent, pen, pacemaker, hearing aid, gigi palsu) harus disampaikan pada petugas.

Apa yang akan dialami pasien saat pemeriksaan?

  • Pasien akan dibaringkan terlentang dengan posisi kedua lengan di samping badan. Khusus untuk pemeriksaan payudara, pasien diminta untuk tidur telungkup.
  • Meja MRI kemudian akan di gerakkan masuk ke medan magnet yang tepat.
  • Pasien akan mendengar suara dari gelombang radio seperti suara ketukan selama pemeriksaan berjalan.
  • Untuk kenyamanan pasien akan dipasangkan headphone dengan lagu-lagu.
  • Selama pemeriksaan, pasien akan selalu diawasi dan dapat berkomunikasi dengan petugas.
  • Pasien juga akan diberi bel di tangan bila ingin memanggil petugas MRI atau ingin mengakhiri pemeriksaan.
  • Selama pemeriksaan pasien diperbolehkan ada pendamping.
  • Lama pemeriksaan biasanya 10-20 menit.

Apakah MRI aman?

  • Pemeriksaan MRI aman bagi pasien yang tidak memakai alat yang terbuat dari logam.
  • Kontra indikasi pada pasien yang menggunakan pacu jantung (pacemaker).
  • Pasien yang menggunakan implant logam dalam tubuh tetap bisa dilakukan tapi memerlukan perhatian khusus.
  • MRI tidak dilakukan pada wanita hamil muda (trimester pertama atau 3 bulan pertama).
  • Pasien yang takut pada ruang sempit (claustrophobia) masih dapat melakukan pemeriksaan dengan menggunkan anastesi.

Di antara mereka yang pernah menjalani prosedur pemindaian (scan) MRI (magnetic resonance imaging), tak jarang ada yang mengeluhkan rasa penat, limbung atau pusing setelah berbaring di mesin pencitraan tersebut. Menurut studi terbaru para ilmuwan, efek pusing atau keluhan tidak nyaman itu disebabkan oleh kuatnya medan magnet serta gelombang radio yang dipancarkan oleh alat tersebut.

Apa perbedaan MRI dan CT-Scan?

Kadang-kadang masyarakat sulit membedakan hasil gambar yang dihasilkan oleh kedua pemeriksaan ini bedanya MRI menggunakan teknik medan magnet dan radio frekuensi. Sedangkan CT-Scan menggunakan sinar X. MRI bagus untuk menilai tulang dan pemeriksaan pembuluh darah dan jantung.

Untuk Informasi lebih lanjut mengenai pemahaman tentang hal ini, dapat dibaca di majalah gratis Sehat Indonesiaku yang akan diterbitkan pada Penghujung tahun 2012.

Apa Itu CT-Scan & MSCT-Scan ?

Sumber: Newcastle University Institute of Health and Society, Rumah Sakit MRCCC Siloam Semanggi & Rumah Sakit Gading Pluit

Computer Tomography

Computer Tomography (CT) merupakan alat diagnostik radiologi yang menggunakan komputer untuk melakukan rekonstruksi data dari daya serap suatu jaringan atau organ tubuh tertentu yang telah ditembus oleh sinar X sehingga terbentuk gambar. Gambaran yang didapat menunjukan detail dari organ, tulang and jaringan lain. Prosedurnya sering disebut sebagai CT scan atau dengan nama lain Computerized Aaxial Tomography (CAT).

CT-Scan mampu mendeteksi secara dini dan menunjukan lokasi tumor secara baik, serta dapat menentukan ukuran tumor dengan akurat. Hal ini sangat membantu dalam evaluasi pasien yang menjalani terapi atau operasi. Sebagai teknik diagnostik yang penting, penggunaan CT scan telah meningkat pesat dalam 10 tahun terakhir, terutama di Amerika Serikat, kata para peneliti.

Apa Kegunaan CT?

CT scan digunakan untuk:

  •  Deteksi atau konfirmasi adanya pendarahan.
  •  Deteksi atau konfirmasi adanya tumor.
  •  Memberi informasi tentang ukuran dan lokasi tumor
  •  Pencerahan radioterapi dan operasi
  •  Memberi informasi tentang penyebaran kanker (metastasis)
  •  Memberi informasi tentang respon pengobatan
  •  Dapat mengetahui anatomi pembuluh darah dan kelainannya.
  •  CT whole body dapat memberi gambaran dari seluruh tubuh mulai dari kepala sampai kaki.

MSCT-Scan 64 Slice

Gambar yang dihasilkan oleh alat ini sangat jelas dan mendetil, sehingga pasien tidak perlu disinar berkali-kali, karena sekali penyinaran menghasilkan 64 gambar dengan rotasi 0,33 detik dan waktu pemeriksaan sangat singkat. Sebagai contoh, pada pemeriksaan jantung pasien cukup menahan nafas hanya selama 10-13 detik. Hal ini sngat berarti untuk pasien yang menderita sakit.

  • Dengan resolusi gambar yang tinggi, CT-Scan kami dapat digunakan untuk mengevaluasi pembuluh darah secara non invasif, seperti pada pembuluh darah jantung koroner, pembuluh darah aorta, otak dan lain-lain. Disamping itu alat ini dapat juga digunakan untuk:
  • Pemeriksaan usus besar tanpa harus memasukan alat ke dalam usus yang diperiksa (CT Coloscopy).
  • Evaluasi ukuran benjolan atau tumor paru, baik jinak atau ganas, secara 3D dengan akurat yang berguna untuk tindakan perawatan lanjut (Lung Care).

Persiapan apa yang dibutuhkan sebelum periksa CT?

Khusus untuk CT yang menggunakan bahan kontras, maka dianjurkan untuk puasa 4-6 jam sebelumnya. Kontras dapat diberikan dalam bentuk oral, suntikan intra vena atau melalui anus.

  • Tidak semua pemeriksan CT-Scan memerlukan persiapan khusus. Seperti untuk pemeriksaan kepala, pasien dapat datang langsung kebagian Radiologi.
  • Pada pemeriksaan CT-Scan yang menggunakan zat kontras (antara lain pembuluh darah jantung), sebaiknya pasien tidak makan terlalu kenyang ± 6 jam sebelumnya untuk mendapatkan hasil yang optimal.
  • Pada pemeriksaan CT-Scan yang memerlukan persiapan khusus, sebaiknya pasien menghubungi bagian Radiologi untuk petunjuk pelaksaan dan penjadwalan pemeriksaan
  • Seluruh hasil laboratorium dan foto-foto sebelumnya sebaiknya dibawa pada saat pemeriksaan CT-Scan.

Apa yang terjadi selama pemeriksaan?

  • Pasien diminta berbaring diatas meja CT-Scan, lalu petugas mengatur posisi badan pasien bisa terlentang, tengkurap atau kesamping agar bagian tubuh yang akan diperiksa berada dalam posisi yang tepat.
  • Meja kemudian akan digerakan masuk ke dalam alat CT·
  • Pasien akan mendengar suara dari mesin CT-Scan dan meja akan bergerak selama beberapa detik sampai pemeriksaan selesai.
  • kadang kala pasien diminta untuk menahan pernapasan sejenak agar mendapat gambaran yang lebih jelas
  • Selama pemeriksaan, pasien berada dibawah pemantauan petugas dan dapat berkomunikasi dengan petugas.
  • Lama pemeriksaan biasanya bervariasi antara 15-30 menit
  • Setelah pemeriksaan selesai, pasien boleh pulang atau kembali ke ruangan bila sedang dirawat di rumah sakit. Pasien boleh makan dan minum seperti biasa, kecuali ada pemeriksaan lain atau pantangan yang dianjurkan oleh dokter.
  • Setelah pemeriksaan dengan kontras, pasien sebaiknya minum air putih lebih banyak.
  • Pasien akan mendapat foto hasil pemeriksaan MSCT-Scan dan 1 buah CD sebagai dokumen.

Apakah ada resiko yang berkaitan dengan MSCT-Scan?

CT-Scan adalah alat penunjang diagnostik untuk mengetahui penyakit pasien dan telah diterima secara luas di seluruh lingkup kedokteran. Pada wanita hamil, pemeriksaan CT-Scan tidak boleh dilakukan pada daerah kandungan, tetapi pada daerah kepala dan leher masih dimungkinkan dengan memberi perlindungan khusus pada daerah perut.

Bahaya Radiasi, Apakah CT-Scan aman?

Radiasi yang dibutuhkan memang lebih besar daripada pemeriksaan rongten biasa. Tapi manfaat dari pemeriksaan untuk mengetahui kelainan lebih besar dibandingkan jumlah radiasinya. Kadang kala ada pasien yang alergi terhadap kontras yang digunakan, namun hal tersebut dapat diatasi dengan baik dan cepet oleh dokter. CT sebaiknya tidak dilakukan pada wanita hamil.

Selain itu, Penggunaan alat pemindaian (scan) yang memancarkan radiasi khususnya pada anak-anak ternyata berpotensi menimbulkan dampak cukup serus.  Anak-anak yang terpapar CT scan bisa sampai tiga kali lebih besar risikonya mengidap kanker darah, otak atau tulang di kemudian hari. Demikian hasil temuan terbaru tim peneliti dari Kanada, Inggris dan Amerika Serikat yang  dipublikasikan dalam The Lancet Medical Journal.

Para peneliti menegaskan, risiko kanker secara absolut tampaknya sangat kecil. Meski begitu, mereka merekomendasikan supaya dosis radiasi dari CT scan yang diberikan pada anak sebaiknya seminimum mungkin.

“Yang terpenting bahwa saat CT scan digunakan, prosedur ini sepenuhnya dibenarkan dari perspektif klinis,” kata Mark Pearce pemimpin studi dari Newcastle University Institut of Health and Society.

Prosedur CT scan atau metode diagnosis dengan menggunakan x-ray (sinar X) juga mungkin saja menimbulkan risiko tambahan bagi pasien obesitas dan kelebihan berat badan. Pasalnya, orang dengan obesitas akan mendapatkan paparan radiasi lebih banyak daripada orang dengan berat badan normal. Mereka yang bertubuh gemuk atau tambun memang membutuhkan dosis radiasi yang lebih besar untuk dapat menghasilkan gambar CT scan.

Apa perbedaan CT-Scan dengan MRI?

Kadang-kadang masyarakat sulit membedakan hasil gambar yang dihasilkan oleh kedua pemeriksaan ini. Bedanya CT-Scan menggunakan sinar X sedangkan MRI menggunakan teknik medan magnet dan radio frekensi.

Untuk Informasi lebih lanjut mengenai pemahaman tentang hal ini, dapat dibaca di majalah gratis Sehat Indonesiaku yang akan diterbitkan pada Penghujung tahun 2012.

Cegah Kanker dengan Deteksi Dini

Sumber: Angel Voice Indonesia, dr. Endah Ronawulan, SpKJ dan DR. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD KHOM FACP

Setiap tahun, lebih dari 12,7 juta orang didiagnosis menderita kanker dan 7,6 juta orang meninggal karena penyakit kanker. Indonesia dengan populasi 230 juta jiwa, terdapat 292.000 pasien baru yang terdiagnosis kanker setiap tahunnya dan 215.000 pasien meninggal akibar kanker.

Jenis kanker terbanyak di Indonesia adalah kanker payudara, serviks, hati, paru, kulit, nasofaring, usus besar, leukemia dan limfoma. Hingga saat ini, kanker adalah penyakit mematikan ketujuh di Indonesia dan posisi ini terus beranjak naik setiap tahunnya.

“Meski penyebab dari penyakit ini belum seluruhnya jelas, 90% disebabkan oleh faktor lingkungan dan gaya hidup. Sepertiga kasus kanker dapat dicegah dan sepertiga lainnya dapat disembuhkan melalui deteksi dini dan terapi yang cepat dan tepat. Tujuan kami adalah membantu masyarakat mengerti tentang pencegahan kanker dan hidup lebih sehat dan bugar,” papar Dra. Hanny Gunawan Moniaga, Ketua dari Angel Voice Indonesia, Yayasan Deteksi dini Kanker.

Sorotan lainnya adalah berkembangnya kapasitas dunia kedokteran, sumber daya manusia dan teknologi di dalam negeri yang mempermudah penderita kanker menjalani pengobatan.

Deteksi Dini Kanker

Deteksi dini kanker adalah salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam mencegah terjadinya kanker. Prof. DR. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD KHOM FACP menjelaskan bahwa kanker pada dasarnya memendekkan rentang usia namun deteksi dini dapat mengembalikan usia alamiah manusia. “Yang dapat melakukan deteksi dini kanker adalah diri sendiri. Lakukan deteksi dini agar tidak perlu kemoterapi,” terang Dr. Aru. Dr. Aru menjelaskan bahwa selama ini, banyak penderita kanker yang terlambat berobat yakni setelah kanker sudah mencapai stadium tiga dan empat sehingga membutuhkan penanganan melalui kemoterapi.

Deteksi dini juga dapat dilakukan melalui aneka jenis general check up seperti USG mamma, mammography, pap smear, USG transvaginal dan abodomen, gastroscopy, CT Scan, MRI lab PSA. Ca 153 hingga teknologi muktahir seperti Pet/CT yang mampu mendeteksi kanker hingga ukuran detail.

Jika sudah terlanjur terjadi, Dr. Aru menjelaskan bahwa penanganan kemoterapi tidak perlu ditakuti karena tidak menyakitkan meski biaya obat memang masih mahal. Dampak-dampak kemoterapi seperti rambut rontok hanya bersifat sementara. “Hanya transisi sementara karena selanjutnya rambut dapat tumbuh kembali.”

Pengobatan pasien kanker pun telah dilengkapi dengan penanganan dalam hal mental atau kejiwaan. dr. Endah Ronowulan, SpKJ menerangkan bahwa dalam beberapa kasus, penderita yang divonis kanker tidak siap mental sehingga cenderung stress dan patah semangat.

“Ada masalah dalam keseimbangan transmisi syaraf ke bagian otak yang bernama hypothalamus. Oleh karena itu, peran dan dukungan anggota keluarga penderita menjadi faktor yang penting.”