MENEROPONG USUS DENGAN KAPSUL “SANGAT CANGGIH“

download (8)

Sumber: Dr. Marcellus Simadibrata, SpPD-KGEH dari RS Abdi Waluyo 

Endoskopi sudah umum dilakukan di berbagai rumah sakit di Indonesia. Tetapi teknik endoskopi dengan cara meminum kapsul masih tergolong baru dan jarang ditemui. Apa benar hanya dengan meminum sebutir kapsul yang kecil seukuran pil vitamin, saluran pencernaan manusia bisa diamati ?

DULU HAL INI memang masih menjadi impian sebuah perusahaan di Israel, Given Imaging Ltd. Given (kependekan dari Gastrolntestinal Video Endoscopy) mendorong para ahlinya untuk melakukan penelitian, dan lahirlah yang disebut dengan kapsul endoskopi. Hanya dengan meminum sebuah kapsul kecil maka saluran pencernaan manusia bisa diamati.

Menurut Dr. Marcellus Simadibrata, SpPD-KGEH dari RS Abdi Waluyo, dulu teknik kapsul endoskopi hanya digunakan oleh Amerika untuk melacak keberadaan tentara atau mata-mata. “Dengan perkembangan ilmu, kapsul ini lalu digunakan untuk endoskopi,” kata dokter yang juga pengajar ilmu Gastroenterologi di FKUI/RSCM.

Bukan pengganti

Sebenarnya alat yang baru hadir di Indonesia sekitar 1-2 tahun yang lalu ini, bukan merupakan pengganti endoskopi biasa karena fungsinya berbeda. Endoskopi menggunakan selang dikenal dengan gastroskopi bila selang dimasukkan melalui mulut, dan kolonoskopi bila selang dimasukkan melalui anus. Untuk meneropong kelainan pada pankreas dan empedu digunakan alat Endoscopic Retrograde CholangioPancreatography (ERCP).

Penggunaan endoskopi dengan selang ini memiliki keterbatasan. Gastroskopi hanya dapat meneropong sampai batas usus halus duodenum, bagian awal dari usus halus. Sedangkan kolonoskopi atau melalui anus hanya sampai ujung akhir dari usus halus. Jadi diperlukan suatu teknologi yang bisa meneropong keadaan usus halus secara keseluruhan, meliputi duodenum, jejunum dan ileum.

Ada sebuah alat teropong yang digunakan untuk meneropong usus halus. Selang ini ukurannya sangat panjang, karena usus halus mempunyai ukuran sekitar 6 m. Marcel mengatakan, “Karena bentuk usus halus yang meliuk-liuk maka penggunaan teropong ini menimbulkan rasa sakit pada pasien sehingga pasien harus dibius total.” Karena itu, penemuan kapsul endoskopi sebagai alternatif pemeriksaan usus halus disambut dengan sangat baik.

Biasanya pasien yang melakukan pemeriksaan endoskopi dengan kapsul sudah melakukan pemeriksaan gastroskopi dan kolonoskopi tetapi belum juga menemukan kelainan. Bila dicurigai kelainan ada di usus halus maka dilakukanlah kapsul endoskopi ini. Jadi ,sifatnya saling melengkapi.

images (43)Teknologi yang digunakan pada teknik endoskopi ini memang canggih. Dalam kapsul yang hanya berukuran 6 x 11 mm ini terdapat kamera video, wireless radioefrequency transmitter, lampu 4 LED (light emitting diode) untuk menerangi lorong pencernaan yang gelap, dan baterai yang bisa bertahan selama 8-10 jam. Diharapkan dalam waktu tersebut, kapsul sudah melewati usus halus.

Sebelum meminum kapsul, pada bagian perut pasien dipasang belt yang memiliki perekam nirkabel dilengkapi dengan 8 sensor array yang dipasang di 8 titik yaitu tiga buah di perut bagian atas, 3 buah di perut bagian tengah dan 2 buah di perut bagian bawah di atas pangkal paha. Sensor akan menangkap sinyal yang dipancarkan kapsul.

Selain itu terdapat juga baterai dan kabel yang akan disambungkan dengan perekam data. Bila semua sudah terpasang dan dites ke sensor menyala berarti alat berfungsi, maka kapsul bisa langsung diminum layaknya meminum pil biasa.

Selama perjalanannya melalui saluran pencernaan, kapsul ini mengumpulkan dua gambar per detik dan menghantarkannya pada alat perekam yang dipakai pasien. Dokter kemudian men-download dan gambar-gambar dapat dilihat dan diamati.

Untuk pasien teknik ini termasuk nyaman. Hanya saja sebelum melakukan tindakan pasien harus berpuasa selama 6 jam sebelumnya. Untuk membersihkan saluran pencernaan pasien juga diberi obat pencahar dan diminta banyak mengonsumsi air putih. Ketika kapsul sudah ditelan pun pasien harus terus berpuasa sampai minimal 4 jam sesudahnya. Marcel menambahkan, “Dalam 2-3 hari, kapsul sekali pakai ini umumnya akan keluar bersama feses (kotoran).”

Sensitivitas tinggi.

Banyak keunggulan yang membuat para pasien lalu melirik pemeriksaan ini dibanding endoskopi biasa karena tidak ada rasa sakit dan risiko trauma minimal daripada di teropong.

“Yang perlu diingat bahwa pemeriksaan dengan kapsul endoskopi ini hanya digunakan untuk memeriksa kelainan pada usus halus, walaupun sebenarnya di luar negeri sudah ada yang menggunakan kapsul endoskopi dengan kamera dua arah sehingga bisa juga digunakan untuk memeriksa esofagus dan lambung,” jelasnya.

Untuk hasil gambaran dari endoskopi, penggunaan kapsul endoskopi memiliki keberhasilan membantu diagnosis sangat baik. Tingkat sensivitasnya mencapai 80-90%. Endoskopi kapsul juga dapat mendeteksi tumor di usus kecil yang sebelumnya tidak terdeteksi oleh teknologi diagnostik lain.

Meski demikian, menurut Marcel penggunaan kapsul endoskopi memiliki efek samping yaitu timbulnya rasa kurang enak diperut. Selain itu, teknik ini tidak boleh digunakan pada pasien yang dicurigai memiliki obstruksi atau hambatan di usus karena kapsul bisa tertahan pada penyempitan usus.

Bila hal ini terjadi, maka perlu dilakukan tindakan operasi untuk mengatasi bagian yang tersumbat atau menyempit sekaligus mengambil kapsul yang tertahan. Untuk mengatasi hal tersebut, di luar negeri sedang dikembangkan penggunaan kapsul yang dapat hancur dengan sendirinya dalam waktu tertentu sehingga tidak perlu tindakan operasi.

Di Indonesia sendiri, pemeriksaan ini masih sangat terbatas. “Karena harganya yang sangat mahal, belt yang digunakan pada bagian perut sebagai perekam data hanya

ada satu di seluruh Indonesia sehingga harus bergantian terbang ke berbagai kota di Indonesia,” tutur Marcel. Harga yang mahal juga membuat pemeriksaan ini memerlukan biaya yang mahal juga, yaitu sekitar 12,5 juta rupiah untuk sekali pemeriksaan.

Walaupun menurut Dr. Marcel ada peningkatan pasien yang berminat melakukan teknik kapsul endoskopi, perlu diingatkan kembali indikasinya karena bila kelainan tidak dicurigai berasal dari usus halus, endoskopi biasa yaitu gastroskopi dan kolonoskopi tetap menjadi pilihan.