Tunda Kehamilan Bisa Turunkan Risiko Kanker Payudara?

images (38)

Sumber: L. Denny Santoso, S.Kom., SAC. Dip., CSN., CHt.

duniafitnes.com

Wanita, yang hamil paling tidak setelah 15 tahun sejak menstruasi pertama, makin sedikit berisiko terpapar kanker payudara. Tepatnya, risiko turun hingga 60 persen untuk terkena kanker payudara.

Seperti dikutip Antaranews.com, para peneliti dari Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle, AS, juga menyatakan bahwa menyusui dapat memberi dampak perlindungan terhadap obat-obatan yang mengurangi faktor risiko kanker payudara.

Penelitian tersebut dilakukan pada para wanita menjelang masa menopause untuk melihat ada-tidaknya korelasi antara menstruasi pertama kali, masa kehamilan, dan kanker payudara triple-negatif.

images (39)Jenis kanker payudara triple-negatif dialami oleh 15 persen penderita kanker payudara. Jenis kanker payudara ini lebih sulit untuk ditangani karena pemicunya tidak tergantung dan dipengaruhi oleh hormon.

Sehingga penyakit ini tidak akan merespon obat penghambat hormon, sepertiTamoxifen. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kehamilan di usia muda dapat menurunkan risiko kanker payudara yang paling umum, yaitu tipe ER Positif.

Para ilmuwan meyakini bahwa hormon pada masa kehamilan bisa mengubah struktur payudara sehingga sel kanker lebih sulit menempel dan berkembang.

Namun, penelitian terbaru menyatakan hal sebaliknya. Wanita justru mengalami penurunan risiko kanker payudara triple-negatif, bila menunda masa kehamilan setidaknya hingga 15 tahun setelah mesntruasi pertama (kira-kira terjadi di usia 13 tahun).

Penelitian ini juga medukung pernyataan bahwa menyusui memiliki manfaat tidak hanya untuk bayi, namun juga bisa mengurangi risiko terpapar kanker payudara triple-negatif.

Ketua penelitian, Dr. Christopher Li, menyatakan bahwa masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi penemuan ini. Hasil penelitian ini telah dipublikasi dalam jurnal Breast Cancer Research and Treatment.

Ketahui Gejala Dan Penyebab Kehamilan Yang Tertunda

Sumber: RS Mitra Keluarga, RSMK Cikarang, dr. Budi Wiweko, SpOG-KFER & dr. Ni Putu Titien Sri K, SpOG

Infertilitas merupakan masalah pada satu kesatuan biologis. Pemeriksaannya harus dilakukan pada keduanya (suami maupun istri).Sejatinya, infertilitas diartikan sebagai kemampuan seorang istri menjadi hamil dan suami bisa menghamili. Atau kegagalan pasangan suami istri (pasutri) untuk mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi selama 1-2 tahun. Kajian ginekologi membagi infertilitas- dalam bahasa awam diartikan sebagai ketidaksuburan- ini menjadi infertilitas primer dan sekunder.

Sederhananya, infertilitas primer berlaku pada pasutri yang belum pernah hamil, sedangkan infertilitas sekunder berlaku pada mereka yang pernah hamil, namun kemudian menjadi sulit hamil.”Disebut infertilitas sekunder karena sebelumnya pernah hamil, bahkan melahirkan secara normal, namun tidak lagi menunjukkan tanda-tanda kehamilan,” kata dr. Ni Putu Titien Sri K, SpOG, MKes di RSMK Cikarang.

Menurut dr. Budi Wiweko, SpOG-KFER, ada dua penyebab infertilitas pada pasutri, yaitu, disengaja karena menggunakan alat kontrasepsi, baik alamiah maupun alat kontrasepsi mantap. Yang kedua, dan patut menjadi perhatian adalah infertilitas yang tidak disengaja, karena kemungkinan ada masalah pada organ reproduksi, baik suami maupun istri.

Karena itulah, kata dokter spesialis obstetri dan ginekologi di RSMK Kelapa Gading ini, ketika pasutri mulai merasakan ada yang salah pada proses kehamilan mereka, misal, setelah melalui masa pernikahan lebih dari satu tahun, namun belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan, maka langkah bijak yang harus dilakukan adalah pergi berkonsultasi ke dokter ahli kandungan. Karena, pasangan infertil merupakan satu kesatuan biologis sehingga harus dilakukan pemeriksaan pada keduanya (suami maupun istri).

Infertilitas pada pihak laki-laki atau suami, biasanya disebabkan oleh adanya gangguan spermatogenesis (kerusakan pada sel-sel testis), seperti aspermia, hypospermia, dan necrospermia. Atau ada kelainan mekanis seperti impotensi, ejakulatio precox, penutupan ductus deferens, hypospadia, dan phymosis. Namun, kata dr. Budi Wiweko, data yang ada hingga saat ini menyebutkan bahwa empat puluh persen infertilitas disebabkan oleh faktor perempuan, 30 persen disebabkan faktor sperma, dan sisanya merupakan kombinasi faktor perempuan dan sperma serta faktor idiopatik.

Saat ini, timpal dr. Yuma Sukadarma SpOG di RS Mitra Kemayoran, pada kasus-kasus infertilitas, digunakan juga istilah subfertil. Karena, pada pria memang hanya tergantung kualitas sperma dan kelainan mekanis pada organ reproduksi. Pada wanita, ada banyak sekali faktor maupun organ yang bisa menyebabkan ketidaksuburan. Mulai dari sel telur, rahim dan seterusnya. Itu sebabnya, kata dr. Budi Wiweko, penanganan infertilitas yang tepat harus dilakukan sesuai dengan faktor penyebabnya. Gangguan ovulasi, endometriosis dan oklusi tuba fallopii merupakan penyebab utama faktor perempuan, sedangkan faktor sperma terutama terkait jumlah dan motilitasnya. Karena itu untuk mengetahui penyebab infertilitas perlu dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang terarah.

Masih seperti kata dr. Budi, 30-40% pasien dengan endometriosis adalah infertil. Endometriosis yang berat dapat menyebabkan gangguan pada tuba, ovarium dan peritoneum. Infertilitas yang disebabkan oleh pihak istri sekitar 40-50%, sedangkan penyebab yang tidak jelas kurang lebih sekitar 10-20%. “Data secara umum kasus infertilitas di seluruh dunia menyebutkan, 1 dari 7 pasangan bermasallah dalam kahamilan,” urai, dr. Titien.

Dengan kenyataan itu, tidak ada salahnya jika pasutri yang belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan setelah melewati masa satu tahun pernikahannya, segera berkonsultasi atau memeriksakan diri ke Rumah Sakit Mitra Keluarga. Setelah berkonsultasi, biasanya akan dilakukan pemeriksaan Anamnesa umum yang paling sederhana, mulai dari pengumpulan data pasangan suami istri, seperti lama menikah, umur pasutri, frekuensi hubungan seksual, tingkat kepuasan seks, penyakit yang pernah diderita, teknik hubungan seks, hingga riwayat perkawinan sebelumnya (jika pernah menikah), dan usia anak terakhir dari hasil pernikahannya terdahulu.

Ketika data-data tersebut dinyatakan oke, artinya pasutri harus memasuki tahap pemeriksaan yang lebih pribadi. Biasanya tentang riwayat kesehatan, terutama di bagian organ reproduksi, hingga pemeriksaan laboratorium dasar dan penunjang, seperti rontgen dan ultrasonografi (USG). Lebih jauh, istimewanya jika ditemukan tanda-tanda masalah dari seluruh hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, biasanya, pasangan perempuan akan melewati tahap pemeriksaan lanjutan yang semakin khusus untuk melihat kemungkinan adanya gangguan pada ovulasi, tuba, vaginal smear, lendir serviks hingga endometrium, dan melakukan terapi atau pengobatan jika ada masalah yang ditemukan.

Jadi, ketika kehamilan tak jua mengunjungi Anda, nasihat lama seperti mengubah teknik hubungan seksual dengan memperhatikan masa subur, dan membiasakan pola hidup sehat, tidak cukup untuk mengkondisikan proses kehamilan Anda, karena bisa saja ada masalah yang lebih kompleks yang mempengaruhinya.

Beberapa Faktor Penyebab Infertilitas:

• Gangguan ovulasi, misal : gangguan ovarium, gangguan hormonal.
• Gangguan ovarium dapat disebabkan oleh faktor usia, adanya tumor pada indung telur dan gangguan lain yang menyebabkan sel telur tidak dapat masak. Sedangkan gangguan hormonal disebabkan oleh bagian dari otak (hipotalamus dan hipofisis) tidak memproduksi hormon-hormon reproduksi seperti FSH dan LH.
• Kelainan mekanis yang menghambat pembuahan, meliputi kalainan tuba, endometriosis, stenosis canalis cervicalis atau hymen, flour albus, kelainan rahim.
• Kelainan tuba disebabkan adanya penyempitan, perlekatan maupun penyumbatan pada saluran tuba.
• Kelainan rahim diakibatkan kelainan bawaan rahim, bentuknya yang tidak normal maupun ada penyekat.

Indikasi atau Syarat untuk Melakukan Konsultasi/Pemeriksaan

• Istri dengan usia 20-30 tahun namun belum memperoleh kehamilan setelah berusaha hingga minimal selama 12 bulan.
• Istri dengan usia 31-35 tahun dapat langsung diperiksa ketika pertama kali datan.
• Istri pasangan infertil dengan usia 36-40 tahun dilakukan pemeriksaan bila belum mendapat anak dari perkawinannya.
• Pemeriksaan infertil tidak dilakukan pada pasangan yang mengidap penyakit.

Untuk Informasi lebih lanjut mengenai pemahaman tentang hal ini, dapat dibaca di majalah gratis Sehat Indonesiaku yang akan diterbitkan pada Penghujung tahun 2012.