16 Jenis Kanker dan Cara Deteksi Dininya

Sumber: American Cancer Society, National Cancer Institute, CISC & ivillage

Kanker memang momok bagi siapa pun. Penyakit ini kadang muncul kapan saja dan bisa menyerang siapa saja tanpa menunjukkan gejala atau tanda-tanda. Bila sudah terlambat, maka kanker dapat menyebar ke berbagai organ tubuh dan menyulitkan proses penyembuhan. Karena itu, Anda perlu mengenal dan mengetahui cara untuk mendeteksi kanker secara dini.

16 jenis kanker beserta cara pendeteksian secara dini, antara lain:

1. Kanker Payudara

Menurut American Cancer Society, ada sekitar 226.870 kasus kanker payudara yang terjadi tahun ini dan sekitar 2190 kasus terjadi pada pria. Kanker payudara adalah jenis kanker yang paling banyak terjadi pada wanita setelah kanker kulit.
Wanita pada usia 40 tahun atau lebih tua harus melakukan pemeriksaan

Mammogram setiap tahunnya untuk mendeteksi kanker secara dini. Wanita yang masih muda harus melakukan pemeriksaan sendiri atau memeriksakan kondisi payudaranya ke dokter setiap tiga tahun sekali. Jika Anda memiliki risiko kanker payudara yang diturunkan dari orangtua atau keluarga Anda, periksakan ke dokter untuk mendapatkan prosedur pemeriksaan MRI. Gejalanya adalah muncul benjolan yang semakin membesar pada payudara dan perubahan ukuran, bentuk dan warna pada payudara dan puting.

2. Kanker Serviks

Kanker ini terjadi pada serviks yang menghubungkan uterus dengan vagina. American Cancer Society menyatakan ada sekitar 12.170 wanita yang menderita kanker serviks tahun ini. Kanker serviks biasanya terjadi pada wanita di bawah usia 50 tahun.

Untuk mendeteksi penyakit ini secara dini, lakukan Tes pap-smear mulai pada usia 21 tahun dan selanjutnya tiap 3 tahun sekali jika hasilnya normal. Pada usia 30 tahun, tes pap harus dikombinasikan dengan tes HPV setiap 5 tahun sekali sampai usia 65 tahun. Gejalanya adalah pendarahan abnormal pada vagina, seperti pendarahan setelah berhubungan seks, setelah menopause, timbulnya bercak darah ketika menstruasi, nyeri ketika berhubungan seks dan gejala lainnya.

3. Kanker Rahim

Sebanyak 47.130 kasus kanker rahim terjadi tahun ini, menurut American College of Obstetricians and Gynecologists. Sekitar 9 dari 10 orang yang menderita kanker rahim menunjukkan gejala pendarahan pada vagina, nyeri panggul, nyeri saat berhubungan seks dan kehilangan berat badan secara drastis.

Tidak ada tes screening yang spesifik untuk mendeteksi kanker rahim secara dini pada wanita yang belum menunjukkan gejala tertentu. Tapi wanita yang memiliki risiko tinggi terhadap kanker rahim, yaitu wanita yang tidak pernah melahirkan, obesitas, diabetes atau tekanan darah tinggi, harus segera memeriksakan kondisinya ke dokter jika mengalami pendarahan vagina.

4. Kanker Ovarium

Kasus kanker ovarium tahun ini terjadi pada sekitar 22.280 wanita.

Kebanyakan terjadi pada wanita pasca menopause. Tidak ada tes screening khusus untuk kanker ovarium, tetapi jika Anda merasa ada yang salah pada kondisi ovarium Anda, dokter akan melakukan uji panggul dan tes tambahan lainnya seperti ultrasound.

Gejalanya adalah perut kembung, nyeri pada panggul, kehilangan nafsu makan, terlalu sering buang air kecil, mudah lelah, nyeri ketika berhubungan seksual dan nyeri punggung. Jika Anda mengalami kondisi tersebut, segera periksakan ke dokter, khususnya jika Anda telah berumur 55 tahun atau lebih, pasca menopause, tidak pernah melahirkan dan memiliki keluarga yang punya riwayat kanker.

5. Melanoma (Kanker Kulit)

Sekitar 76.250 kasus melanoma terjadi pada tahun ini. Melanoma adalah kanker kulit yang berasal dari sel-sel penghasil pigmen (melanosit). Jeni kanker ini biasanya terjadi pada orang di bawah usia 30 tahun.

Anda dapat melakukan proses screening sendiri untuk mencegah melanoma dengan mengamati tanda-tanda munculnya bintik-bintik pada kulit Anda. Atau jika kulit Anda terlalu sensitif, kunjungi dokter kulit untuk mengetahui lebih lanjut apakah Anda berisiko terhadap melanoma. Gejala yang mungkin pada penderita melanoma adalah munculnya bintik atau tahi lalat yang berubah bentuk, warna dan ukuran. Terkadang di sekitar bintik dan tahi lalat akan terasa gatal, nyeri bahkan terjadi pendarahan.

6. Kanker Prostat

Sekitar 241.740 kasus kanker prostat terjadi tahun ini. 2 dari 3 orang yang menderita kanker prostat adalah pria yang berumur lebih tua dari 65 tahun.

Belum ada tes screening yang direkomendasikan untuk mendeteksi kanker prostat secara dini. Anda harus menjalani pemeriksaan tes darah prostate-specific antigen (PSA) dan digital rectal exam (DRE) jika telah menginjak usia 50 tahun atau lebih. Gejala kanker prostat antara lain bermasalah dalam ereksi, urin yang mengandung darah, nyeri pada pinggang dan melemahnya kaki.

7. Kanker Testis

Sebanyak 8.590 kasus kanker testis terjadi tahun ini berdasarkan data dari National Cancer Institute. Penderitanya paling banyak adalah pria pada usia 20 sampai 35 tahun. Anda harus segera memeriksakan kondisi testis Anda ke dokter jika Anda menemukan sesuatu yang aneh pada testis. Gejala yang mungkin adalah pembengkakan testis dan rasa berat pada skrotum.

8. Leukemia (Kanker Darah)

Kasus leukemia tahun ini telah terjadi pada 47.150 orang, berdasarkan data National cancer Institute. Leukimia adalah jenis kanker yang mempengaruhi sumsum tulang dan jaringan getah bening. Semua kanker bermula di sel, yang membuat darah dan jaringan lainnya.

Tidak ada tes screening yang dapat dilakukan untuk mendeteksi leukimia secara dini. Gejala yang mungkin terjadi pada penderita leukimia adalah bengkaknya kelenjar getah bening di sekitar leher atau ketiak tanpa disertai rasa sakit, demam, mudah terinfeksi, mudah lelah, mudah berdarah ketika luka dan kehilangan berat badan.

9. Kanker Perut (Lambung)

Menurut American Cancer Society, telah terjadi kasus kanker lambung sebanyak 21.320 kasus tahun ini. Kanker lambung biasanya terjadi pada orang pada usia 65 tahun atau lebih dan pria lebih berisiko tinggi daripada wanita.

Belum ada tes screening yang dapat mendeteksi kanker lambung secara dini. Tetapi dokter akan melakukan tes lain seperti endoscopy untuk memeriksa perut, esofagus dan usus halus. Kanker perut ketika yang masih dini tidak menimbulkan gejala tertentu, tetapi setelah parah akan menyebabkan ketidaknyamanan, kesulitan menelan, muntah, kembung setelah makan dan kehilangan berat badan.

10. Kanker Paru-paru

Menurut American Lung Association, kanker paru-paru adalah penyebab kematian terbesar baik pada pria maupun wanita. Kanker paru-paru telah terjadi sebanyak 226.160 kasus tahun ini.

Tidak ada tes screening yang sesuai untuk kanker paru-paru, tetapi jika Anda berisiko tinggi terhadap kanker paru-paru seperti perokok dan berusia 55-74 tahun, mintalah dokter anda untuk melakukan CT-scan. Melalui tes ini, Anda akan mememukan keganjilan pada paru-paru Anda secara dini. Ketika kanker paru-paru telah parah, gejala yang muncul adalah batuk yang terus-menerus, nyeri di dada, kelelahan, napas pendek dan infeksi paru-paru atau pneumonia.

11. Kanker Kolorektal (Colon dan Rectum)

Kanker Kolorektal adalah kanker yang terjadi pada usus besar dan dubur. Sebanyak 103.170 kasus kanker usus besar dan 40.290 kasus kanker dubur terjadi tahun ini. Kebanyakan penderitanya adalah orang dengan usia 50 tahun atau lebih. Anda dapat melakukan tes screening dengan sigmoidoscopy atau colonoscopy pada usia 50 tahun. Gejala yang timbul pada kanker jenis ini adalah sembelit, pendarahan pada anus dan kehilangan berat badan.

12. Kanker Otak

Kanker otak yang diawali dengan tumbuhnya tumor dalam otak, meskipun kecil tetap harus dihilangkan karena tumor dapat tumbuh dan merusak sel-sel otak yang normal. Sekitar 22.190 kasus kanker otak terjadi tahun ini, berdasarkan data dari National Cancer Institute.

Periksalah ke dokter untuk mendeteksi gejala kanker otak secara dini. Dokter akan biasanya akan melakukan tes MRI untuk memastikan otak Anda dalam keadaan sehat.Gejala umum yang terjadi pada penderita kanker otak adalah sakit kepala, masalah keseimbangan, gangguan penglihatan dan pendengaran.

13.Kanker Kandung Kemih

Sebanyak 73.510 kasus baru mengenai kanker kandung kemih terjadi tahun ini. Kebanyakan terjadi pada orang dengan usia 55 tahun atau lebih dan pria lebih berisiko dibanding wanita.

Tes screening tidak dianjurkan untuk Anda kecuali Anda berisiko tinggi terhadap kanker kandung kemih, seperti orang yang selalu terpapar bahan kimia seperti tukang cat, penata rambut dan ahli mesin. Dokter akan melakukan tes urin atau cystoscopy untuk mengetahui apakah Anda berisiko terhadap kanker kandung kemih atau tidak. Gejala yang terjadi pada penderita kanker kandung kemih adalah adanya darah pada urin, terlalu sering buang air kecil dan rasa nyeri seperti terbakar ketika buang air kecil.

14. Kanker Ginjal

Sekitar 64.770 kasus kanker ginjal terjadi tahun ini dan kebanyakan terjadi pada pria, menurut American Urological Association. Kanker ginjal terbentuk pada pembuluh ginjal yang berfungsi menyaring darah dan membuang zat-zat yang tidak diperlukan tubuh menjadi urin.

Tidak ada tes screening tertentu untuk mendiagnosa kanker ginjal secara dini, tetapi dokter biasanya akan menyarankan untuk pemeriksaan urin, ultrasound, CT scan atau MRI. Gejala yang dialami oleh penderita kanker ginjal adalah adanya darah dalam urin, bengkaknya kaki dan pergelangan kaki, kehilangan berat badan tiba-tiba dan mudah lelah.

15. Kanker Hati

Estimasi kasus kanker hati tahun ini terjadi sekitar 28.720 kasus baru yang kebanyakan terjadi pada pria dibanding wanita, menurut National Cancer Institute.
Orang yang telah didiagnosa menderita hepatitis B atau C atau memiliki keluarga dengan riwayat kanker harus melakukan tes screening dengan ultrasound atau tes darah. Ketika kanker telah parah, Anda akan merasakan gejala seperti kulit menguning, muntah dan pusing, warna urin gelap, kehilangan nafsu makan dan kembung.

16. Kanker Pankreas

Kanker pankreas merupakan penyakit yang termasuk masalah pada pencernaan. American Cancer Society telah mencatat sebanyak 43.920 kasus kanker pankreas yang terjadi tahun ini. Sebanyak 90 persen pasien berusia lebih dari 55 tahun.

Jika Anda memiliki riwayat penyakit kanker dari orangtua, konsulatsikan kepada dokter Anda untuk melakukan tes genetik untuk mengetahui seberapa mungkin Anda dapat menderita kanker pankreas. Gejala yang dialami penderita kanker pankreas diantaranya adalah warna urine gelap, pucat, kulit dan mata menguning, muntah dan nyeri pinggang.

Untuk Informasi lebih lanjut mengenai pemahaman tentang hal ini, dapat dibaca di majalah gratis Sehat Indonesiaku yang akan diterbitkan pada penghujung tahun 2012.

5 Fakta Tanning dan Kanker Kulit

               Sumber: Canadian Cancer Society & Dr. Wang Suryani, Sp.KK

Sementara orang Indonesia tak henti-hentinya memimpikan kulit sawo matang mereka menjadi lebih putih, para pemilik kulit putih justru berusaha membuat kulit pucat mereka jadi lebih gelap. Hal itu terungkap dalam poling yang diadakan oleh American Academy of Dermatology (AAD) yang dimulai pada tahun 2010 lalu terhadap lebih dari 7.100 pria dan wanita di Amerika Serikat.

Sekitar 72 persen responden menilai bahwa seseorang terlihat lebih menarik dengan kulit tan, sementara 66 persen menjawab orang berkulit tan terlihat lebih sehat. Sayangnya, mayoritas responden belum menyadari bahaya menjemur kulit. Sekitar 60 persen responden mengatakan sinar matahari bagus untuk kulit.

Yang menarik, meski menilai kulit tan itu menarik, namun mereka juga menyadari bahaya kanker kulit dari proses penggelapan kulit. Lebih dari 75 persen responden menjawab mereka akan melakukan perlindungan untuk melindungi kulit dari bahaya kanker. Dan 80 persen mengatakan mereka peduli pada kanker kulit dan karenanya ingin melindungi kulitnya. Generasi muda masa kini tengah dilanda tren tanning atau penggelapan kulit agar terlihat eksotis. Padahal tanning merupakan salah satu penyebab utama munculnya melanoma dan kanker kulit.

Kita tahu, kanker kulit merupakan kanker yang paling sering didiagnosis di Kanada dan di penjuru dunia karena terjadi pada 1 dari setiap 5 orang.

Dalam jurnal Mayo Clinic Proceedings, peneliti pun mengatakan bahwa wanita berusia di bawah 40 tahun-lah yang paling sering terserang bentuk terparah dari kanker kulit yaitu melanoma akibat tren tersebut.

“Generasi muda mengaitkan penggelapan kulit dengan daya tarik berkat tayangan televisi dan majalah yang mengunggulkan tampilan kulit yang lebih gelap. Namun faktanya tak ada yang namanya proses penggelapan kulit yang sehat,” ungkap Dr. John Turner, ahli kulit di Southlake Regional Health Centre, Newmarket, Ont.

Untuk memahami bahaya tanning, kita perlu tahu 5 fakta penting tentang tanning dan kanker kulit dari Canadian Cancer Society, seperti:

  1. Tak ada cara yang aman untuk mendapatkan kulit gelap. Menurut WHO, tanning bed (alat yang membantu menggelapkan kulit) bisa menyebabkan kanker kulit.
  2. Kanker kulit melanoma adalah salah satu bentuk kanker yang paling umum namun paling mematikan yang terjadi pada generasi muda berusia 15-29 tahun.
  3. Penggunaan tanning bed sebelum berusia 35 tahun dapat meningkatkan risiko kanker kulit sebesar 75 persen.
  4. Sinar UV dari tanning bed bisa jadi lima kali lebih kuat daripada sinar matahari di tengah hari.
  5. Kulit yang di-tanning adalah kulit rusak. Meskipun warna kecoklatannya akan memudar, kerusakannya akan terus ada di kulit.

Dalam sebuah studi di AS, angka kejadian melanoma pada wanita berusia 15-39 tahun di satu daerah di Minnesota lebih dari dua kali lipat antara tahun 1973 dan 2004. Seperti dilaporkan Dr. Jerry Brewer dari Mayo Clinic di Rochester, Minn., kasusnya meningkat dari 5,5 persen per 100.000 orang pada 1973 menjadi 13,9 persen per 100.000 orang pada 2004.

“Selain paparan sinar UV pada orang dewasa, penggunaan tanning bed dan aktivitas berjemur yang dilakukan anak-anak dan remaja juga bisa berkontribusi terhadap perkembangan melanoma,” simpul peneliti.

“Perilaku berisiko tinggi ini pun semakin umum di kalangan anak-anak dan remaja. Meskipun kampanye pendidikan kesehatan publik telah dirancang untuk mengurangi perilaku yang mengarah pada paparan sinar UV berlebihan, anehnya anak-anak, remaja dan orang dewasa terus melakukannya.”

Dr.Zoe D Draelos, dermatologis dan prosefor dari Duke University School of Medicine, mengatakan proses penggelapan kulit, baik yang dilakukan dengan cara berjemur langsung di bawah matahari atau menggunakan tanning beds (alat penggelap kulit) sama-sama merusak kulit. “Semua itu bisa menimbulkan kerutan, flek hitam, bahkan kanker kulit,” katanya.

Ia menambahkan, teori yang menyebutkan manfaat penting vitamin D bagi kesehatan membuat banyak orang tidak menyadari bahaya lain dari sinar matahari. “Kita bisa mendapatkan vitamin D dari sumber makanan atau suplemen. Cara itu lebih sehat karena kita tetap mendapat manfaat yang sama tanpa risiko kena kanker kulit,” katanya.

Dalam pedomannya, American Academy of Dermatology menyebutkan risiko terkena melanoma atau kanker kulit bisa ditekan dengan cara menghindari berbagai bentuk aktivitas penggelapan kulit, baik lewat berjemur di bawah matahari atau di tanning beds.

Untuk Informasi lebih lanjut mengenai pemahaman tentang hal ini, dapat dibaca di majalah gratis Sehat Indonesiaku yang akan diterbitkan pada penghujung tahun 2012.